TARAKAN – Selain Hatija, persoalan desil turut juga dikeluhkan warga lainnya, Kai Malik, pria lansia yang berdomisili RT 5 Kelurahan Karang Balik.
Pria ini memiliki nama lengkap Malik Demon kelahiran 31 Desember 1951. Iamengaku sebelumnya masih mendapatkan bantuan beras bantuan pemerintah, namun kini tidak lagi menerima bantuan tersebut.
Ironisnya, berdasarkan data yang ditunjukkan saat wawancara, Malik justru tercatat masuk dalam kelompok desil 6. Ia juga tak tahu dirinya masuk desil 6.
Padahal, kenyataannya Malik sudah tidak bekerja, tidak memiliki pekerjaan dan sehari-hari hanya mengandalkan pemberian dari anaknya.
“Saya enggak ada kegiatan. Anak datang aja yang ngasih, anak saya ojol,,” ujar Malik saat ditemui TribunKaltara.com di kediamannya, Keluraha Karang Balik RT 5.
Malik mengatakan, anaknya ojol pendapatannya tak bisa setiap hari diharapkan ada didapat karena bergantung penumpang ramai atau sepi.
“Saya kadang diberi Rp100 ribu itu tidak setiap hari. Itu yang saya belikan sayur dan ikan,” akunya.
Dulu semasa muda, Malik pernah bekerja sebagai operator alat berat. Namun, pekerjaan tersebut sudah ditinggalkannya sejak 2021. Kini usianya sudah 74 tahun, tak sanggup lagi bekerja.
“Kalau dulu saya kerja bawa kepiting, loader pakai alat besar,” tuturnya.
Ia mengatakan berhenti bekerja bertahun-tahun lalu. Sejak tidak lagi bekerja, Malik tinggal bersama anaknya. Ia juga mengisi aktivitas dengan mengajar mengaji secara sukarela kepada sejumlah anak di sekitar tempat tinggalnya. Muridnya kini ada empat orang.
Malik mengungkap, setiap hari anak-anak di dekat rumahnya datang belajar mengaji. Namun ia tak meminta atau mematok bayaran kepada anak-anak yang datang belajar.
“Tapi kalau ada orangtuanya ngasih saya terima, anggap rezeki,” akunya.
Ketika ditanya mengenai bantuan beras, Malik membenarkan bahwa sebelumnya ia pernah menerima bantuan. Namun, untuk bantuan beras yang terbaru, ia mengaku tidak lagi mendapatkannya.
Malik pun berharap bantuan yang pernah diterimanya dapat kembali diberikan.
Persoalan semakin menjadi sorotan setelah Malik diketahui tercatat dalam desil 6.
Padahal, kondisi yang terlihat di lapangan menunjukkan Malik tidak memiliki penghasilan tetap dan hanya mengandalkan bantuan dari anaknya. Malik juga tak tahu apa itu maksud desil.
“Apa itu desik saya juga tidak paham,” ungkapnya.
Ketua RT 5, Ardhianti yang turut berada di lokasi juga mempertanyakan hasil pendataan tersebut.
Menurutnya, kondisi warga di lapangan perlu menjadi perhatian agar data penerima bantuan benar-benar sesuai dengan keadaan sebenarnya.
Ia menilai jangan sampai kesalahan data justru membuat warga menyalahkan pihak RT karena tidak mendapatkan bantuan. Ketua RT menyebut kemungkinan persoalan serupa juga terjadi di RT lainnya sehingga perlu dilakukan pengecekan lebih lanjut.
Ia juga tak mengetahui mengapa warganya masuk desil 6 padahal jelas bukan pekerja.
Kondisi tersebut menunjukkan adanya pertanyaan warga mengenai kesesuaian data penerima bantuan dengan kondisi ekonomi masyarakat di lapangan.
“Kalau bisa libatkan RT kalau ada pendataan, supaya lebih akurat dan melibatkan pengecekan langsung, sehingga masyarakat yang benar-benar membutuhkan tidak kehilangan hak atas bantuan hanya karena persoalan data ini,” pungkasnya. (*)

