TARAKAN — Bagi Hatijah, bantuan beras bukan sekadar angka kilogram dalam daftar penerima. Bagi warga RT 5, Kelurahan Karang Balik, Tarakan itu, beras yang diterima menjadi salah satu penopang ketika penghasilan sehari-hari tidak menentu.
Hatijah masih mengingat bantuan pangan yang pernah diterimanya. Saat itu, ia mendapatkan 20 kilogram beras dan empat liter minyak goreng. Namun, pada pembagian berikutnya, namanya disebut tidak lagi masuk dalam daftar penerima.
Padahal, Hatijah mengaku masih berada dalam kelompok desil penerima bantuan. Ia menyebut dirinya tercatat dalam desil 4.
“Saya tidak tahu soal desil. Mana saya mengerti,” ujar Hatijah saat ditemui.
Sehari-hari, Hatijah membantu menjaga kios milik anaknya. Penghasilan dari aktivitas tersebut tidak tetap. Dalam sehari, ia mengaku terkadang memperoleh sekitar Rp100 ribu hingga Rp150 ribu, namun uang tersebut bukan sepenuhnya menjadi penghasilan yang dapat ia gunakan untuk kebutuhan rumah tangga.
Kios tersebut dikelola oleh anaknya. Hatijah hanya membantu menjaganya. Uang hasil usaha kemudian digunakan kembali untuk membeli kebutuhan dan memutar modal.
“Tidak tentu, kadang Rp100 ribu, kadang Rp150 ribu,” tuturnya.
Dengan kondisi tersebut, Hatijah mengaku penghasilannya lebih banyak digunakan untuk bertahan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bahkan, ia mengatakan pernah berada dalam kondisi harus makan nasi dengan garam karena tidak memiliki cukup uang untuk membeli lauk.
“Beras sama garam pun boleh,” katanya.
Kondisi ekonomi Hatijah juga tidak hanya bergantung pada kios. Ia turut membantu aktivitas di bank sampah di lingkungannya. Di sana, ia bersama warga lainnya mengumpulkan, menimbang dan memilah barang yang masih memiliki nilai jual.
Namun, penghasilan dari kegiatan tersebut juga terbatas. Hatijah mengatakan hanya ada dua orang yang mendapatkan bagian dari aktivitas bank sampah tersebut, sehingga nominal yang diterimanya tidak cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan.
Di sisi lain, anak-anak Hatijah yang telah berkeluarga juga masih memiliki kebutuhan masing-masing. Sebagian masih memiliki anak yang bersekolah, sehingga bantuan dari keluarga kepada Hatijah tidak selalu dapat diberikan secara rutin.
Beberapa waktu lalu, Hatijah juga didatangi petugas sensus. Kepada petugas, ia mengaku menjelaskan kondisi rumah, aktivitas ekonomi, hingga perkiraan penghasilan dari kios yang dijaganya.
Petugas juga menanyakan berbagai hal terkait kondisi kepemilikan dan keadaan rumah.
Hatijah berharap informasi yang disampaikan sesuai dengan kondisi sebenarnya dan tidak justru membuat status penerima bantuannya berubah tanpa alasan yang ia pahami.
“Saya bilang, kalau sudah datang masih begini saja. Tidak ada saya terima apa-apa malah,” ujarnya.
Kekhawatiran itu muncul karena Hatijah mengaku tidak memahami bagaimana proses penentuan desil dilakukan. Ia hanya berharap kondisi kehidupannya dapat tergambarkan secara utuh dalam pendataan.
“Saya takut nanti tiba-tiba masuk desil sembilan. Saya tidak paham soal desil,” katanya.
Pernah Menjadi Korban Kebakaran
Kehidupan Hatijah juga pernah diuji musibah. Rumahnya menjadi salah satu yang terdampak kebakaran hingga menyisakan tanah.
Sejumlah bantuan sempat datang dari berbagai pihak, termasuk lembaga kemanusiaan. Namun, setelah bantuan tanggap darurat berlalu, kebutuhan sehari-hari tetap harus dipenuhi.
Hatijah mengaku tidak menerima Program Keluarga Harapan (PKH). Sementara bantuan pangan berupa beras menjadi salah satu bentuk bantuan yang pernah diterimanya.
Karena itu, ketika namanya tidak lagi tercantum dalam daftar penerima bantuan pangan, ia berharap ada penjelasan mengenai perubahan tersebut.
Bagi Hatijah, bantuan beras sangat berarti ketika penghasilan tidak menentu. Ia tidak meminta sesuatu yang berlebihan. Ia hanya berharap pendataan benar-benar menggambarkan kondisi masyarakat yang membutuhkan.
“Kalau ada bantuan, ya kami berharap diperhatikan,” ucapnya.
Harapan Hatijah sederhana: bantuan diberikan kepada mereka yang memang membutuhkan dan data yang digunakan benar-benar mencerminkan kondisi kehidupan warga di lapangan.
Sebab, bagi keluarga dengan penghasilan yang hanya cukup untuk makan, beberapa kilogram beras bukan sekadar bantuan. Itu adalah ruang untuk bernapas sedikit lebih lega di tengah kebutuhan hidup yang terus berjalan.

