TANA TIDUNG, Metrokaltara.com – Malam yang biasanya tenang di berubah hangat oleh nyala ribuan obor. Cahaya berpendar di sepanjang jalan, berpadu dengan lantunan selawat dan wajah-wajah penuh sukacita. Tradisi tahunan pawai obor kembali menjadi penanda bahwa bulan suci Ramadan 1447 H semakin dekat.
Pawai obor yang menjadi bagian dari Tarhib Ramadan ini dilepas langsung oleh Bupati dari kawasan , Selasa (17/2) malam. Sejak selepas Magrib, masyarakat dari berbagai penjuru sudah memadati lokasi, membawa obor bambu, lampion, hingga bendera kecil bernuansa islami.
Suasana terasa begitu hidup. Anak-anak berjalan berdampingan dengan orang tua, remaja berswafoto di bawah cahaya api, sementara iringan rebana menambah nuansa religius yang kental. Pawai ini tak sekadar seremoni, melainkan ruang kebersamaan yang mempertemukan warga lintas usia dalam satu semangat menyambut bulan penuh berkah.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Sekretaris Daerah H. Hersonsyah, unsur Forkopimda, pimpinan perangkat daerah, tokoh agama, serta perwakilan dan PHBI.
Kehadiran para pemangku kepentingan itu memperlihatkan kuatnya dukungan terhadap tradisi religius yang telah mengakar di masyarakat.
Dalam sambutannya, Ibrahim Ali menegaskan bahwa pawai obor bukan hanya simbol kegembiraan, tetapi juga pengingat untuk mempersiapkan diri secara spiritual.

Anggota DPRD Kaltara Vamelia Ibrahim, Bersama Tim Penggerak PKK Kabupaten Tana Tidung Antusias Mengikuti Pawai Obor Sambut Ramadan
“Dengan penuh antusias dan kebahagiaan kita menyambut Ramadan. Tradisi ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus wujud rasa syukur masyarakat Bumi Upun Taka,” ujarnya.
Ia menambahkan, semangat yang terpancar dari pawai harus berlanjut dalam bentuk peningkatan ibadah dan kepedulian sosial selama Ramadan.
Menurutnya, bulan suci merupakan momentum memperkuat iman dan memperbanyak amal saleh—mulai dari mempererat persaudaraan, menjaga lisan, hingga meningkatkan kepedulian kepada sesama. Karena itu, ia mengajak seluruh warga menjaga suasana yang aman dan kondusif selama bulan puasa.
“Pemerintah berharap masyarakat terus menjaga ketertiban dan kebersamaan, sehingga pelaksanaan ibadah dapat berlangsung khusyuk dan damai,” tuturnya.
Malam itu, ketika barisan pawai perlahan bergerak meninggalkan titik start, nyala obor tampak seperti aliran cahaya yang menghidupkan kota. Lebih dari sekadar tradisi, pawai obor menjadi simbol harapan—bahwa Ramadan akan disambut dengan hati yang bersih, persaudaraan yang erat, dan semangat kebersamaan yang terus menyala. (rko)

