Dari Pangan Lokal ke Pasar Nasional, Vamelia Dorong Udang Galah Jadi Produk Frozen

by Isman Toriko

TANA TIDUNG, Metrokaltara.com — Udang galah menjadi salah satu kekayaan pangan lokal Kabupaten Tana Tidung yang dinilai masih menyimpan potensi ekonomi besar. Selama ini, komoditas tersebut lebih banyak dipasarkan dalam bentuk bahan mentah, sementara peluang untuk mengolahnya menjadi produk bernilai tambah masih terbuka lebar.

Kondisi inilah yang mendorong Ketua TP PKK Kabupaten Tana Tidung sekaligus Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Utara, Vamelia Ibrahim, untuk mendorong pengembangan udang galah menjadi produk olahan yang memiliki daya saing dan dapat menembus pasar di luar daerah.

Gagasan tersebut disampaikan Vamelia saat menghadiri Lomba Masak Menu Sehat Sekeluarga di Aula Bankaltimtara Cabang Tideng Pale, Rabu (16/9/2026).

Bagi Vamelia, lomba memasak tidak semestinya berhenti sebagai kegiatan seremonial atau sekadar ajang menunjukkan kreativitas mengolah makanan. Di balik kegiatan tersebut, terdapat peluang untuk menggali potensi pangan lokal sekaligus membuka jalan bagi tumbuhnya ekonomi kreatif berbasis kuliner.

Sebanyak 13 peserta mengikuti kegiatan dengan menghadirkan berbagai kreasi makanan berbahan pangan lokal.

“Kalau berbicara tentang kerajinan dan sesuatu yang diolah, saya perlu orang yang bisa mengombinasikan dan bertukar pikiran untuk bagaimana mengembangkan UMKM yang ada di Kabupaten Tana Tidung,” ujar Vamelia.

Ia melihat udang sebagai salah satu komoditas yang layak mendapatkan perhatian lebih serius. Potensinya cukup besar, namun selama ini nilai ekonominya dinilai belum maksimal karena sebagian besar masih dijual sebagai bahan mentah.

Vamelia bahkan mengaku telah membicarakan potensi tersebut dengan Gubernur Kalimantan Utara. Menurutnya, diperlukan kolaborasi lintas perangkat daerah agar potensi udang tidak berhenti sebagai hasil tangkapan atau komoditas segar, tetapi dapat berkembang menjadi produk unggulan daerah.

“Kenapa kita tidak mengangkat itu? Ini sebenarnya menjadi PR untuk Dinas Pertanian dan dinas terkait, bagaimana udang itu bisa dikelola dengan baik sehingga bisa menjadi produk,” katanya.

Dari Udang Mentah Menjadi Produk Bernilai Tambah

Salah satu gagasan yang dinilai memiliki peluang adalah mengembangkan udang menjadi produk frozen food.

Konsepnya sederhana, tetapi membutuhkan rantai pengembangan yang serius. Udang yang sebelumnya hanya dijual sebagai bahan mentah dapat diolah, dikemas dengan baik, kemudian dipasarkan sebagai produk siap konsumsi maupun siap diolah.

Dengan pengolahan dan kemasan yang tepat, pasar produk tersebut tidak harus terbatas di Tana Tidung.

“Ketika bisa dibuat produk frozen, sudah bisa didistribusikan dan kita bisa jual sampai keluar daerah,” ujar Vamelia.

Menurutnya, pengembangan produk olahan udang tidak hanya berbicara mengenai makanan. Di dalamnya terdapat peluang untuk menciptakan usaha baru, memperluas pasar UMKM, sekaligus memperkenalkan identitas pangan lokal Tana Tidung kepada konsumen di daerah lain.

Namun, Vamelia menegaskan bahwa pengembangan UMKM tidak cukup dilakukan dengan memberikan pelatihan kemudian selesai.

Pembinaan harus dilanjutkan dengan pendampingan. Pelaku usaha perlu dibantu memahami kualitas produk, standar pengemasan, strategi pemasaran hingga jaringan distribusi.

“Jangan sampai mereka sudah semangat menjual, tetapi tidak bisa mendistribusikan atau tidak tahu menjual ke mana. Itu sebenarnya menjadi pekerjaan rumah kita,” tegasnya.

Ia mencontohkan produk amplang. Pelatihan membuat amplang, menurut Vamelia, harus dilanjutkan dengan pembinaan mengenai bagaimana membuat kemasan yang menarik, menentukan pasar, membangun merek hingga memperluas jaringan pemasaran.

Dengan pola tersebut, pelatihan tidak berhenti menjadi sekadar keterampilan. Lebih jauh, keterampilan tersebut diharapkan berubah menjadi usaha yang mampu memberikan pendapatan bagi masyarakat.

Dorong Konsep “Kulkas Hidup” di Pekarangan

Selain pengembangan UMKM berbasis pangan lokal, Vamelia juga mengajak masyarakat memperkuat ketahanan pangan keluarga dengan memanfaatkan lahan yang tersedia di sekitar rumah.

Ia memperkenalkan konsep kulkas hidup, yakni memanfaatkan pekarangan untuk menanam berbagai kebutuhan pangan keluarga sehingga dapat dipanen ketika dibutuhkan.

Menurutnya, kebiasaan menanam sendiri dapat membantu keluarga mengurangi pengeluaran sekaligus memastikan ketersediaan bahan pangan.

“Biasanya kita beli sendiri, nanam sendiri itu lebih murah daripada sudah masuk ke pasar,” ujarnya.

Konsep tersebut juga dapat dikembangkan dengan memanfaatkan limbah dapur sebagai bahan pupuk organik. Dengan demikian, sisa makanan rumah tangga tidak sekadar menjadi sampah, tetapi dapat dikembalikan ke tanah untuk mendukung pertumbuhan tanaman.

Bagi Vamelia, ketahanan pangan keluarga dan pemberdayaan ekonomi masyarakat merupakan dua hal yang dapat berjalan beriringan.

“Jadi kita tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga bisa menghasilkan dan menjual,” katanya.

Ia berharap kader PKK mulai dari tingkat kecamatan hingga desa dapat menjadi penggerak dalam pemanfaatan pangan lokal. Kreativitas mengolah bahan pangan, pemanfaatan pekarangan, penguatan ketahanan pangan keluarga hingga pengembangan UMKM dinilai perlu dibangun dalam satu gerakan yang berkelanjutan.

Pada akhirnya, lomba memasak bukan sekadar tentang siapa yang menghasilkan hidangan paling menarik. Lebih dari itu, kegiatan tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk melihat kembali kekayaan pangan lokal Tana Tidung dan mengubahnya menjadi peluang ekonomi.

“Lomba masak ini menjadi momentum untuk terus berkreasi dan menumbuhkembangkan ekonomi kreatif berbasis kuliner,” pungkasnya. (rko)

Related Articles

Bagaimana Tanggapan Anda?....

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses