TANA TIDUNG, Metrokaltara.com – Jalan poros Desa Seputuk yang selama ini menjadi jalur alternatif tercepat menuju Kabupaten Malinau kembali terendam banjir. Dalam dua hari terakhir, genangan air yang menutupi badan jalan membuat akses transportasi lumpuh dan tidak dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.
Banjir yang dipicu tingginya curah hujan tersebut menggenangi ruas jalan hingga mencapai lutut orang dewasa. Kondisi ini memaksa banyak pengguna jalan membatalkan perjalanan atau mencari jalur lain yang lebih jauh.
Sejak pagi hingga sore, sejumlah kendaraan terlihat berhenti di titik genangan. Sebagian pengendara memilih menunggu air surut, sementara lainnya terpaksa memutar balik karena khawatir kendaraan mogok atau mengalami kerusakan akibat nekat menerobos banjir.
Di tengah hamparan air yang menutupi badan jalan, aktivitas warga pun terganggu. Jalur yang biasanya menjadi urat nadi mobilitas masyarakat antara Desa Seputuk dan Kabupaten Malinau berubah menjadi kawasan yang sulit dilalui.
Salah seorang pengendara, Roni, mengaku terpaksa membatalkan rencananya melintasi jalur tersebut. Padahal dirinya sudah hampir mencapai wilayah Kabupaten Tana Tidung sebelum akhirnya memutuskan kembali ke jalur lama.
“Terpaksa putar balik. Padahal sudah dekat KTT. Kalau banjirnya tidak terlalu dalam mungkin masih bisa dilewati, tetapi ini cukup tinggi dan berisiko air masuk ke mesin mobil,” ujarnya.
Menurut Roni, kondisi jalan sebenarnya sudah jauh lebih baik dibanding beberapa tahun lalu. Ruas jalan yang dahulu dipenuhi lubang dan kubangan kini telah diratakan sehingga perjalanan menjadi lebih nyaman. Namun persoalan banjir masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan.
Ia menilai penyebab utama genangan adalah sistem drainase yang belum memadai sehingga air hujan tidak dapat mengalir dengan cepat ke saluran pembuangan.
“Dulu jalan ini sangat parah, banyak kubangan dan sulit dilewati. Beberapa bulan terakhir sudah bagus dan lancar. Tapi kalau hujan deras beberapa hari seperti sekarang, air tetap naik ke badan jalan,” katanya.
Roni berharap pemerintah segera membangun kanal atau parit yang lebih dalam di sepanjang titik-titik rawan banjir agar genangan tidak terus berulang setiap musim hujan.
Menurutnya, keberadaan jalan tersebut sangat penting karena menjadi akses tercepat yang menghubungkan wilayah Tana Tidung dengan Kabupaten Malinau.
“Kalau lewat jalan ini hanya sekitar satu setengah jam sudah sampai Malinau. Kalau harus lewat jalan lama bisa sampai dua jam lebih. Selisih waktunya cukup besar,” jelasnya.
Keluhan serupa juga disampaikan Usman, pengendara sepeda motor yang mengalami kendala saat mencoba menerobos banjir bersama istrinya.
Ia mengaku awalnya mengira genangan tidak terlalu dalam. Namun saat berada di tengah jalan, air ternyata masuk ke bagian mesin hingga kendaraan mati.
“Saya kira tidak dalam. Ternyata saat di tengah, air sudah masuk sampai knalpot dan motor langsung mati. Akhirnya harus mendorong sambil mencari bantuan,” tuturnya.
Usman mengakui kondisi jalan kini jauh lebih baik dibanding sebelumnya karena telah diperbaiki dan tidak lagi dipenuhi lubang. Namun ancaman banjir masih menjadi persoalan klasik yang terus berulang setiap kali hujan deras mengguyur kawasan tersebut.
“Sekarang jalannya sudah bagus dan tidak berlubang lagi. Tapi kalau hujan deras tetap saja banjir. Dari dulu masalahnya memang seperti ini,” katanya.
Bagi masyarakat setempat, jalan poros Seputuk bukan sekadar jalur alternatif. Ruas ini menjadi penghubung penting aktivitas ekonomi, pendidikan, pelayanan kesehatan hingga mobilitas warga antarwilayah.
Karena itu, banjir yang menutup akses jalan tidak hanya menghambat perjalanan, tetapi juga berdampak langsung terhadap aktivitas masyarakat sehari-hari.
Warga berharap pemerintah daerah dapat melakukan penanganan yang lebih permanen, bukan hanya memperbaiki badan jalan, tetapi juga membangun sistem drainase yang mampu mengendalikan limpasan air saat hujan deras.
“Kami berharap pemerintah bisa memperbaiki jalan ini secara menyeluruh. Jalan ini merupakan akses utama masyarakat menuju Desa Seputuk maupun Malinau. Kalau ditangani dengan baik tentu masyarakat bisa merasa lebih aman dan nyaman saat bepergian,” harap Usman.
Hingga berita ini diturunkan, genangan air masih terlihat menutupi sejumlah titik di ruas jalan poros Seputuk. Warga berharap kondisi segera membaik agar akses transportasi kembali normal dan aktivitas masyarakat tidak lagi terganggu oleh banjir yang berulang setiap musim hujan. (rko)

