FORDA Kaltara Ke-1, Ajang Unjuk Gigi UMKM Kaltara

by Redaksi Kaltara

TANJUNG SELOR, MK – Sebagai bentuk perayaan Festival Olahraga Rekreasi Daerah (FORDA) pertama di Kalimantan Utara (Kaltara), banyak pemilik Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) ikut berpartisipasi. Para pemilik UMKM saling memperlihatkan produk lokal yang menjadi andalan dari masing-masing Kabupaten dan Kota di Kaltara.

Banyak produk yang dipamerkan kepada masyarakat luas, diantaranya seperti kopi, jajanan lokal, hingga batik dengan berbagai macam motif. Tampak para pecinta batik saling memperlihatkan ciri khas dan keunikan yang memberi daya tarik tersendiri.

Nana Diana sebagai salah satu pemilik usaha Thenos Batik Kaltara asal Malinau ini menceritakan bahwa batik yang ia produksi difokuskan kepada motif kontemporer. Dirinya mengaku telah mengangkat tema alam yang dipadukan dengan motif Dayak asli Kaltara.

“Yang kita punya disini memang bertema alam, contohnya seperti motif Bunga Raflesia yang ada di Krayan atau pun Anggrek Hutan ini. Semuanya memang batik kontemporer, tapi tetap menggunakan unsur suku Dayak yang ada di Kaltara,” ujarnya sambil memperlihatkan beberapa motif batik.

Selain itu, Sri Mulyanti juga memaparkan batik khas Bulungan seperti Bultiyak yang memiliki arti Bulungan, Tidung, dan Dayak sebagai bentuk kolaborasi yang mengakomodir setiap suku di Kaltara.

“Di Bulungan sendiri ada batik Bultiyak, ini artinya Bulungan, Tidung, dan Dayak. Penyatuan ketiga suku ini adalah bentuk mengakomodir suku yang ada di Bulungan. Aneka motifnya pun sudah banyak dan beberapa diantaranya telah dikolaborasikan. Contoh motif tersebut adalah motif Bunga Kunyit dengan Jamong, Lalai Tua, Batik Tidung, dan unsur Dayak Kenyah, Lundayeh, atau Kayan,” jelas Sri.

Selain itu, pengrajin batik asal Tarakan Soni Lolong menjelaskan bahwa Tarakan cenderung menggunakan motif batik dari suku Tidung yang dikolaborasikan bersama motif Dayak. Penggabungan dari kedua motif ini menciptakan batik yang sangat menarik.

“Ciri khas batik tarakan itu adalah motif Tidung yang dipadukan bersama motif Dayak. Perbedaannya dapat dilihat dari ujung ukiran motif Tidung yang cenderung tumpul dan melengkung, sementara itu motif Dayak pada umumnya memiliki ukiran yang tajam diujung lengkungannya,” bebernya.

Pria ini menyampaikan bahwa minat masyarakat di Kaltara kian meningkat. Hal ini dipengeruhi oleh arahan Gubernur dan Wakil Gubernur mengenai penggunaan batik lokal di lingkungan kerja Pemerintah Provinsi Kaltara.

“Sehubungan dengan himbauan Gubernur dan Wagub (Wakil Gubernur, red) mengenai penggunaan batik ini sangat meningkatkan antusiasme masyarakat Kaltara. Kami bersyukur dan merasa ada perhatian dari pemerintah di tengah pandemi, saya harap gerakan semacamnya ini tidak hanya di awal saja,” sambungnya.

Soni juga menyampaikan harapannya agar setiap pengrajin maupun pemilik usaha UMKM dapat saling bekerjasama agar perputaran ekonomi yang diharapkan pemerintah dapat berjalan lancar.

“Saya harapkan kepada para pengrajin batik, ketika mendapatkan banyak pesanan yang tidak dapat ditangani sendiri tolong jangan dilempar ke pembatik yang ada di daerah luar. Jangan jadikan kekurangan tenaga sebagai alasan, kita bisa memanfaatkan teman-teman pembatik disini yang masih kurang order-annya. Apabila pesanan ini sampai dilempar ke luar, perputaran keuangan di kaltara jadi keluar juga,” tegasnya lagi.(saq/diskominfo)

Related Articles

Bagaimana Tanggapan Anda?....

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: