JAKARTA, Metrokaltara.com – Di tengah isu perubahan iklim yang terus menjadi perhatian dunia, Kabupaten Tana Tidung mulai menapaki jalur diplomasi hijau.
Langkah itu terlihat saat Bupati Tana Tidung, Ibrahim Ali, melakukan silaturahmi dan audiensi dengan Duta Besar Republik Seychelles, Nico Barito, di Kantor Consulare General of Seychelles Jakarta, kemarin.
Pertemuan yang berlangsung dalam suasana hangat dan penuh semangat kerja sama tersebut tidak sekadar menjadi agenda silaturahmi diplomatik. Lebih dari itu, pertemuan ini membuka ruang dialog mengenai masa depan lingkungan dan potensi ekonomi hijau yang dimiliki daerah pesisir seperti Tana Tidung.
Di hadapan Dubes Seychelles, Ibrahim Ali memaparkan kekayaan sumber daya alam Kabupaten Tana Tidung, terutama hamparan hutan mangrove yang selama ini menjadi penjaga alami kawasan pesisir.
Bagi sebagian orang, mangrove mungkin hanya deretan pohon yang tumbuh di tepian laut. Namun bagi Tana Tidung, kawasan itu menyimpan nilai jauh lebih besar. Mangrove menjadi benteng penahan abrasi, tempat berkembang biaknya biota laut, penyaring alami ekosistem pesisir, sekaligus penyerap karbon yang sangat efektif.
Potensi inilah yang kini mulai dilirik untuk dikembangkan melalui skema perdagangan karbon atau carbon credit.
“Potensi hutan mangrove yang dimiliki Kabupaten Tana Tidung sangat besar dan strategis. Selain menjaga keseimbangan ekosistem pesisir, kawasan ini juga memiliki peluang untuk dikembangkan dalam program carbon credit sebagai bagian dari mitigasi perubahan iklim dan pengurangan emisi karbon,” ujar Ibrahim Ali dalam audiensi tersebut.
Gagasan mengenai carbon credit menjadi salah satu poin penting yang dibahas dalam pertemuan itu. Skema ini memungkinkan kawasan yang mampu menyerap dan menyimpan karbon mendapatkan nilai ekonomi melalui mekanisme konservasi lingkungan.
Bagi Tana Tidung, peluang tersebut bukan sekadar tentang investasi, melainkan jalan untuk membuktikan bahwa pelestarian alam dapat berjalan seiring dengan pembangunan daerah.
Ibrahim Ali menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Tana Tidung memiliki komitmen kuat dalam menjaga lingkungan melalui pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan. Menurutnya, pembangunan tidak boleh mengorbankan kelestarian alam, terlebih bagi daerah pesisir yang kehidupannya sangat bergantung pada kesehatan ekosistem.
“Komitmen kami jelas, yakni menjaga kelestarian alam sekaligus mendorong pembangunan yang ramah lingkungan. Potensi carbon credit dari kawasan mangrove diharapkan dapat membuka peluang investasi hijau yang berdampak positif bagi masyarakat dan daerah,” tegasnya.
Sentuhan kerja sama dengan Republik Seychelles dinilai memiliki makna strategis. Negara kepulauan di kawasan Samudera Hindia itu dikenal aktif dalam isu konservasi laut dan ekonomi biru (blue economy), sehingga memiliki pengalaman yang relevan dengan potensi pesisir dan kelautan Tana Tidung.
Pertemuan tersebut menjadi sinyal bahwa pemerintah daerah tidak lagi hanya berpikir dalam batas administratif wilayah, tetapi juga mulai membangun jejaring internasional untuk mendukung pembangunan berkelanjutan.
Harapan besar pun disematkan dari pertemuan itu. Pemerintah Kabupaten Tana Tidung berharap terjalin sinergi dan kolaborasi yang lebih luas dengan Republik Seychelles, khususnya dalam pengembangan ekonomi hijau, konservasi lingkungan, serta pemanfaatan kawasan pesisir dan kelautan secara berkelanjutan.
Di balik meja audiensi Jakarta itu, tersimpan pesan bahwa masa depan Tana Tidung mungkin tidak hanya dibangun dari daratan dan infrastruktur, tetapi juga dari akar-akar mangrove yang tumbuh tenang di pesisir—menjaga alam, menyerap karbon, dan perlahan membuka jalan menuju panggung kerja sama global. (rko)


