Puncak Kemarau Usai, BMKG Sebut Cuaca Nunukan Mulai Masuk Periode Lebih Basah

by Redaksi Kaltara

Nunukan, MK – Puncak musim kemarau di Kabupaten Nunukan telah berlalu dan kondisi cuaca kini mulai beralih ke fase yang lebih basah, sebagaimana disampaikan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Nunukan, Rabu (01/04/2026).

Kepala BMKG Nunukan, William Sinaga, mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil pengamatan di Stasiun Meteorologi, cuaca dalam beberapa hari terakhir didominasi kondisi cerah, meskipun hujan masih terjadi dengan intensitas rendah.

“Dalam satu minggu terakhir cuacanya cenderung cerah, hujannya hanya sedikit saja, sekitar 0,2 milimeter,” ujarnya, Rabu (01/04/2026).

Meski demikian, pada pagi hari ini sempat terjadi hujan dengan intensitas cukup lebat yang memberikan dampak positif terhadap ketersediaan air di sejumlah wilayah.

“Tadi pagi sempat hujan lebat, alhamdulillah ini membantu juga untuk ketersediaan air,” kata William.

Ia menjelaskan, secara klimatologi Kabupaten Nunukan terbagi dalam tiga zona wilayah, zona musim yakni Nunukan, Sebatik, dan satu wilayah lainnya yang cenderung basah sepanjang tahun, yaitu wilayah 4.

“Wilayah 4 seperti sebuku, sembakung, Lumbis dan krayan itu sepanjang tahun masuk kategori musim hujan, jadi tidak mengalami kemarau seperti Nunukan dan Sebatik,” jelasnya.

Berdasarkan data klimatologi selama 30 tahun terakhir, musim kemarau di wilayah Nunukan dan Sebatik umumnya terjadi pada Februari hingga Maret, namun pada tahun 2026, pola tersebut mengalami pergeseran dan berlangsung lebih panjang dari biasanya.

“Kalau rata-rata 30 tahun itu Februari sampai Maret, tahun ini bisa sampai April dasarian kedua,” ujarnya.

Meski mengalami perpanjangan, BMKG memastikan bahwa puncak musim kemarau telah terjadi pada Maret dan kini telah terlewati, saat ini, wilayah Nunukan mulai memasuki masa peralihan menuju peningkatan curah hujan.

“Puncaknya sudah lewat di bulan Maret, jadi sekarang kemarau sudah berlalu dan kita masuk masa peralihan menuju hujan,” tegasnya.

William juga menjelaskan bahwa hujan masih dapat terjadi pada masa kemarau, namun dengan akumulasi yang relatif rendah, suatu wilayah dikategorikan kering apabila curah hujan berada di bawah 50 milimeter dalam kurun waktu 10 hari.

“Masih ada hujan, tapi kecil, di bawah 50 milimeter per 10 hari itu baru kategori kering,” jelasnya.

BMKG turut mengingatkan bahwa perbedaan kondisi cuaca antarwilayah merupakan hal yang wajar di Kabupaten Nunukan, mengingat karakteristik zona yang berbeda-beda.

“Bisa saja satu tempat hujan, tempat lain tidak. Itu normal di wilayah kita,” tambahnya.

Selain itu, BMKG juga mengimbau masyarakat Kabupaten Nunukan untuk secara rutin memantau informasi prakiraan cuaca sebelum memulai aktivitas sehari-hari, informasi tersebut dapat diakses melalui aplikasi Info BMKG yang dapat diunduh melalui Play Store melalui Smartphone.

Dengan berakhirnya puncak musim kemarau, BMKG mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap perubahan cuaca yang dapat terjadi secara cepat, sekaligus bersiap menghadapi kondisi yang perlahan menjadi lebih basah di wilayah Nunukan dan sekitarnya. (**)

Related Articles

Bagaimana Tanggapan Anda?....

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses