TARAKAN – Program rehabilitasi mangrove melalui Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) di Kalimantan Utara telah mencapai sekitar 10.900 hektare dari target keseluruhan seluas 14.000 hektare. Capaian tersebut tersebar di tiga kabupaten, yakni Bulungan, Tana Tidung, dan Nunukan.
PPIU Manager M4CR Kalimantan Utara, Akhmad Ashar Sarif, mengatakan capaian rehabilitasi mangrove tersebut merupakan akumulasi kegiatan penanaman yang telah dilaksanakan sejak 2024 hingga saat ini.
Ia menjelaskan, pada 2024 penanaman telah mencapai sekitar 6.500 hektare. Sementara itu, capaian terbaru berada di kisaran 4.400 hektare, sehingga total penanganan saat ini mencapai sekitar 10.900 hektare.
“Untuk saat ini kita sudah di 10.900. Sebanyak 6.500 di tahun 2024 dan sekarang sekitar 4.400-an,” ujar Akhmad, Selasa (3/11/26).
Dengan target 14.000 hektare, masih terdapat sekitar 3.100 hektare yang perlu dituntaskan. Untuk mendukung pencapaian tersebut, M4CR masih menyiapkan sekitar 1.100 hektare rencana kegiatan yang ditargetkan dapat dieksekusi pada tahun ini.
Akhmad menyampaikan, tahun ini ditargetkan menjadi tahap terakhir untuk kegiatan penanaman dalam rencana yang telah disusun. Namun, kegiatan program tidak serta-merta berakhir setelah penanaman selesai karena pada tahun berikutnya akan dilanjutkan dengan pemeliharaan.
“Jadi bukan berarti setelah kita tanam tahun ini kita selesaikan. Tidak, nanti tahun depan kita ada pemeliharaan. Tapi akan ada lagi usulan untuk penanaman. Kita tetap coba mencari peluang kalau memang bisa dieksekusi 2026, harapannya bisa dilaksanakan lagi,” jelasnya.
Dalam pelaksanaannya, rehabilitasi mangrove menghadapi sejumlah tantangan di lapangan. Beberapa di antaranya berkaitan dengan kondisi perairan yang kurang sesuai untuk pertumbuhan bibit serta munculnya lumut pada tanaman yang masih berusia muda.
Menurut Akhmad, kelompok masyarakat yang mengalami kegagalan pertumbuhan tanaman didorong untuk melakukan penanaman kembali secara swadaya dengan mempertimbangkan hasil evaluasi kondisi lokasi.
Jika kendala disebabkan kedalaman air yang terlalu tinggi, penanaman dapat digeser ke lokasi yang lebih sesuai. Begitu pula apabila ditemukan gangguan pertumbuhan akibat lumut, perlu dilakukan penyesuaian dalam proses penanaman.
“Untuk yang kurang bagus ini kita upayakan kelompok menanam kembali secara swadaya dengan mempertimbangkan hasil evaluasi. Kalau memang di situ karena airnya dalam, kita akan bergeser sedikit ke yang airnya lebih tinggi,” ungkapnya.
Ia menambahkan, pola penanaman mangrove di kawasan tambak tidak harus menggunakan satu metode tertentu. Terdapat beberapa pilihan, mulai dari penanaman di sepanjang sisi tambak, di bagian tengah pelataran, hingga menggunakan pola lajur dengan jarak tanam tertentu.
Pemilihan metode tersebut disesuaikan dengan kondisi lahan dan kesepakatan bersama pemilik tambak agar kegiatan rehabilitasi tetap berjalan tanpa mengganggu aktivitas budidaya.
Terkait jenis mangrove yang ditanam, Akhmad mengatakan pemilihannya perlu mempertimbangkan vegetasi alami yang tumbuh di sekitar kawasan. Apabila kawasan didominasi jenis Avicennia, penanaman dapat menyesuaikan dengan jenis tersebut. Begitu pula pada kawasan yang didominasi Rhizophora.
Namun, untuk kawasan tambak, pemilihan jenis tanaman juga perlu mempertimbangkan ruang gerak dan aktivitas petambak. Sebab, karakteristik perakaran beberapa jenis mangrove dapat memengaruhi area budidaya.
Selain kegiatan penanaman, M4CR juga mendorong edukasi kepada masyarakat, khususnya petambak yang masih meragukan manfaat keberadaan mangrove di kawasan tambak.
Salah satu upaya yang dilakukan yakni melalui sekolah lapang dengan melibatkan petambak yang telah berhasil menerapkan pola silvofishery atau budidaya perikanan yang dipadukan dengan keberadaan mangrove.
Akhmad menyebut, petambak yang telah memiliki pengalaman dan keberhasilan akan dilibatkan untuk berbagi pengetahuan secara langsung kepada masyarakat lainnya.
“Kalau ada sekolah lapang, biasanya kita libatkan juga teman-teman yang sudah berhasil. Mereka kita bawa ke sekolah lapang supaya dari mereka juga yang menyampaikan, bukan hanya dari kami,” katanya.
Menurutnya, pendekatan melalui sesama petambak dinilai dapat membantu meningkatkan pemahaman masyarakat karena pengalaman praktik disampaikan langsung oleh orang yang telah menjalankan pola budidaya tersebut.
Dari sisi lingkungan, keberadaan mangrove juga memiliki potensi menjaga kualitas air di kawasan tambak. Akhmad menjelaskan, sejumlah penelitian akademis menunjukkan daun mangrove dapat berperan dalam menjaga kualitas air sehingga mendukung kondisi kesehatan udang.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa dampak langsung terhadap peningkatan produktivitas hasil panen masih memerlukan kajian dan pengujian lebih lanjut.
“Secara akademis memang sudah ada beberapa penelitian bahwa daun mangrove itu bisa menjaga kualitas air. Jadi udangnya lebih sehat. Kalau untuk produktivitas, itu masih perlu dicek lagi. Cuma kalau udangnya sehat, insyaallah produksinya baik,” pungkasnya.
Melalui program rehabilitasi mangrove yang dipadukan dengan pengembangan budidaya perikanan, M4CR diharapkan tidak hanya memperkuat pemulihan ekosistem pesisir, tetapi juga mendorong keberlanjutan aktivitas ekonomi masyarakat yang bergantung pada kawasan tambak.

