Banyak Jalur Tikus Memudahkan Gembong Teroris Masuk di Kaltara

by Muhammad Aras

Forum Group Discussion (FGD) yang dilaksanakan oleh Direktorat Binmas Polda Kaltara di Royal Crown Hotel, Kamis (29/11).

TANJUNG SELOR, MK –  Persoalan terorisme dan paham radikalisme masih terus menjadi atensi kepolisian daerah (Polda) Provinsi Kalimantan Utara (Kapolda). Bahkan menjadi perbincangan hangat dalam Forum Group Discussion (FGD) yang dilaksanakan oleh Direktorat Binmas Polda Kaltara di Royal Crown Hotel, Kamis (29/11).

Dalam forum FGD yang juga di hadiri Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kaltara, Wadir Intelkam Polda Kaltara, AKBP Eri Dwi Hariyanto mebeberkan ada enam lokasi sasaran para gembong teroris ini dalam menjalankan aksinya. Keenam lokasi itu diantaranya, rumah ibadah, hutan/gunung, bank, toko emas, mako Polri, hingga jalan-jalan umum.

Terpisah, Dirbinmas Polda Kaltara, Kombes Pol Moh. Yamin Sumitra mengatakan, upaya dalam menangkal adanya aliran separatisme ataupun radikalisme di Kaltara ini dengan gencarnya melakukan pendekatan dengan masyarakat. Tentu, yang harus menjadi ujung tombak dari pendekatan itu adalah para 3 pilar desa. Dijelaskan Yamin, ke 3 pilar yang dimaksud adalah Bhabinkamtibmas dari Polri, Babinsa dari TNI, serta Kepala Desa/Lurah dari pihak pemerintah.

“Tiga pilar desa ini kita harapkan bisa menangkal adanya aliran-aliran yang menentang pancasila. Mereka (tiga pilar) itu kan yang paling dekat dengan masyarakat. Di tataran pemerintah itu kan, pemerintah desa yang paling kecil. Nah itu seharusnya sebagai dinamisator, koordinator, inisiator dalam menjaga Kamtibmas ini,” ujarnya kepada Metro Kaltara, Kamis (29/11).

Menurutnya, jalur Kaltara ini memang menjadi jalur perlintasan para gembong teroris itu. Letaknya sebagai provinsi perbatasan dan di kelilingi oleh ribuan jalur tikus, memudahkan para gembong teroris ini menuju daerah lain melalui jalur Kaltara. Bahkan, lanjut dia, beberapa wilayah yang ada di Kaltara ini memiliki pintu resmi membuat aparat keamanan yang berada di perbatasan sedikit kewalahan.

“Kalau kita lihat di Kabupaten Nunukan, ada Pulau Sebatik dan Krayan. Kedua daerah itu kan memang jadi favorit, baik jalur darat maupun jalur laut. Biasanya itu kalau dari Nunukan, pasti ke Tarakan dulu. Nanti di Tarakan baru nyebar, ada yang ke Sulawesi dan ada juga yang ke Jawa. Begitupun sebaliknya,” tuturnya.

Pihaknya juga secara intens melakukan pertemuan dengan para pemuka agama di seluruh wilayah Kaltara ini. Ini dengan tujuan, bisa membantu pihak kepolisian dalam menangkal adanya anti pancasila. “Selain tiga pilar desa yang kita kumpulkan, kita juga intens melakukan pertemuan dengan pemuka agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, dan lain-lain. Kita yakin, mereka itu bisa membantu polisi dalam menangkal semua aliran-aliran anti pancasila di Kaltara ini,” terangnya. (ars)

Related Articles

Bagaimana Tanggapan Anda?....

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: