TANA TIDUNG, Metrokaltara.com — Malam pembukaan Festival Tari Kreasi Daerah Pesisir dan Pedalaman se-Kaltara, Jumat (21/11/2025), berubah menjadi salah satu malam paling meriah di RTH Tana Tidung. Meski cuaca diguyur hujan sejak petang, antusiasme warga tak surut sedikit pun. Ribuan penonton tetap bertahan dengan payung, jas hujan, bahkan sebagian memilih menikmati rintik air begitu saja—semua demi menyaksikan penampilan Budi Doremi, artis Ibukota yang mereka tunggu.
Begitu lampu panggung menyala dan sosok Budi muncul dengan baju adat khas Tana Tidung pemberian Vamelia Ibrahim, istri Bupati, sorak penonton langsung membahana. Hujan tak lagi terasa; yang ada hanya semangat yang menghangatkan seluruh area.
“Apa kabar Tana Tidung? Luar biasa sekali malam ini meski hujan tetap ramai! Terima kasih untuk Ibu Bupati atas baju khas Tana Tidung ini,” sapa Budi, disambut teriakan penuh energi dari penonton yang basah namun bahagia.
Sejak dentingan gitar pertama, penonton yang berpayung maupun yang tak peduli lagi dengan basahnya pakaian ikut bernyanyi bersama. Lagu-lagu seperti Mesin Waktu, Melukis Senja, Tolong, dan Takkan Hilang mengalun lembut, menyatu dengan suara hujan yang jatuh di sekitar panggung.
Dari balik payung berwarna-warni, sorot lampu ponsel tetap mengudara—menciptakan pemandangan indah yang tak biasa: lautan cahaya yang berkedip di tengah hujan.
Tak hanya masyarakat yang menikmati malam itu. Bupati Ibrahim Ali, Vamelia Ibrahim, Wakil Bupati Sabri dan Istri Martha Sabri, sejumlah pejabat Sekda H Hersonsyah, PLT Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Arman Jauhari, OPD, hingga tamu undangan lainnya tampak ikut merasakan meriahnya suasana. Meski sesekali harus mengusap tetesan hujan, mereka tetap tersenyum dan ikut bergoyang kecil mengikuti alunan musik.
Budi bahkan sempat turun dari panggung untuk menyapa para pejabat satu per satu, menciptakan interaksi hangat yang membuat penonton bersorak lebih keras.
Puncak kejutan terjadi saat Budi membawakan Kopi Dangdut. Ritme ceria lagu itu seolah menghapus lelah dan dingin yang dibawa hujan. Penonton—termasuk beberapa pejabat—ikut bergoyang, tertawa, dan bersorak mengikuti gerakan lucu Budi yang khas.
Hujan tak lagi jadi penghalang; ia justru menjadi bagian dari kemeriahan malam itu.
Menjelang akhir, Budi mengajak seluruh penonton menyanyikan lagu fenomenalnya, Doremi. Suara ribuan orang menggema bersama, menciptakan momen yang membuat siapa pun yang hadir akan sulit melupakannya.
Sebelum turun panggung, Budi melambaikan tangan sambil berkata:
“Terima kasih Tana Tidung! Kalian luar biasa, bahkan di tengah hujan!”
Di tengah kerumunan, Nora, warga Tarakan yang datang khusus untuk acara ini, tak bisa menyembunyikan kegembiraannya.
“Basah kuyup pun enggak masalah. Penampilan Budi seru banget. Suaranya bagus, lucu, dan interaksinya bikin kita lupa sama hujan,” tutupnya sambil tertawa. (rko)


