MALINAU, Metrokaltara.com – Pagi itu, ruang Tebengang Kantor Bupati Malinau tak sekadar menjadi tempat berkumpul. Ia menjelma ruang batin yang hangat—tempat kata maaf dipertukarkan, genggaman tangan menguatkan, dan harapan baru dirajut dalam balutan suasana Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah, Kamis (9/4).
Pemerintah Kabupaten Malinau menggelar Halal Bihalal sebagai momentum mempererat silaturahmi lintas jajaran dan lapisan. Kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an yang mengalun khidmat, menghadirkan ketenangan sebelum rangkaian acara berlanjut ke laporan Ketua Panitia, Drs. H. Kamran Daik, M.Si.
Mengusung tema “Merajut Kebersamaan Mempererat Tali Persaudaraan Dalam Keberagaman Agama Guna Mendukung 5 Program Inovasi Daerah”, acara ini tidak sekadar seremoni tahunan. Ia menjadi penegasan bahwa keberagaman di Malinau adalah kekuatan, bukan sekat.
Seluruh jajaran pimpinan daerah, staf, hingga tamu undangan hadir dalam suasana penuh keakraban. Tidak ada jarak yang terasa, yang tampak justru kebersamaan yang cair—sebuah potret harmoni yang jarang terlukiskan dalam rutinitas birokrasi sehari-hari.
Dalam momen tersebut, Bupati Malinau, Wempi W. Mawa, S.E., M.H., juga menyerahkan hadiah kepada para pemenang takbir keliling. Apresiasi ini menjadi simbol bahwa semarak Idul Fitri bukan hanya milik ruang ibadah, tetapi juga hidup dalam denyut budaya masyarakat.
Dalam sambutannya, Wempi menegaskan bahwa halal bihalal adalah tradisi luhur yang memiliki makna lebih dari sekadar pertemuan fisik.
“Momentum ini bukan hanya ajang silaturahmi, tetapi juga sarana untuk saling memaafkan, mempererat persaudaraan, dan memperkuat kebersamaan di antara kita semua,” ujarnya.
Lebih jauh, ia mengajak seluruh elemen untuk tidak berhenti pada seremoni. Semangat Idul Fitri, menurutnya, harus diterjemahkan menjadi energi baru dalam menjalankan tugas dan pengabdian.
“Saya berharap semangat Idul Fitri ini dapat membawa keberkahan, ketenangan, serta semangat baru bagi kita semua dalam melanjutkan pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan daerah,” pungkasnya.
Di tengah tantangan pembangunan daerah, pesan itu terasa relevan. Halal bihalal bukan hanya tentang kembali ke nol, tetapi juga tentang melangkah bersama dari titik yang sama—menuju Malinau yang lebih inovatif, inklusif, dan berdaya saing. (rko)


