MALINAU, Metrokaltara.com – Suasana hangat penuh nuansa kekeluargaan menyelimuti Balai Pertemuan Umum (BPU) Desa Setarap, Kecamatan Malinau Selatan Hilir, Kamis (30/7/2026) malam. Tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, tokoh perempuan, pemuda hingga perwakilan Kerukunan Keluarga Besar Bangen Tavai dari berbagai daerah di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara berkumpul dalam satu semangat, mempererat persaudaraan sekaligus merumuskan arah organisasi ke depan.
Kegiatan tersebut semakin bermakna dengan kehadiran Bupati Malinau, Wempi W Mawa yang secara resmi membuka Rapat Kerja Kerukunan Keluarga Besar Bangen Tavai Kaltim-Kaltara Tahun 2026.
Dalam sambutannya, Bupati Wempi menyampaikan apresiasi atas kekompakan seluruh keluarga besar Bangen Tavai yang terus menjaga persaudaraan di tengah keberagaman masyarakat Kalimantan.
Menurutnya, organisasi kemasyarakatan tidak hanya menjadi wadah berkumpul, tetapi juga memiliki tanggung jawab besar sebagai perekat persatuan, penjaga nilai-nilai budaya, sekaligus mitra strategis pemerintah dalam membangun daerah.
“Organisasi ini harus menjadi alat pemersatu untuk terus bergandengan tangan, memperkuat sinergi antara organisasi, pemerintah, lembaga adat dan masyarakat demi mewujudkan keluarga besar Bangen Tavai yang lebih maju, mandiri dan sejahtera tanpa meninggalkan nilai-nilai adat, budaya dan persaudaraan,” tegas Wempi.
Ia menilai rapat kerja bukan sekadar agenda rutin organisasi, melainkan momentum penting untuk menyusun program-program yang benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat. Setiap keputusan yang dihasilkan, lanjutnya, harus terdokumentasi dengan baik sehingga dapat menjadi bahan evaluasi pada kepengurusan berikutnya dan menjadi tolok ukur keberhasilan organisasi.
Lebih jauh, Bupati Wempi mengingatkan bahwa pembangunan tidak hanya berbicara mengenai infrastruktur dan ekonomi. Pelestarian budaya juga merupakan investasi penting bagi masa depan daerah.
“Budaya adalah kita dan kita adalah budaya. Kalau bukan kita sendiri yang menjaga dan melestarikannya, siapa lagi. Jangan sampai generasi muda kehilangan jati dirinya karena tidak lagi mengenal budaya dan tradisi leluhurnya,” ujarnya.
Pesan tersebut disampaikan dengan penuh harapan agar seluruh elemen masyarakat, terutama generasi muda, terus bangga terhadap warisan budaya yang dimiliki. Baginya, identitas suatu daerah akan tetap hidup apabila adat istiadat terus dipelihara dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Tak hanya budaya, Wempi juga menaruh perhatian serius terhadap kelestarian bahasa daerah. Ia mengingatkan bahwa bahasa merupakan identitas yang tidak boleh hilang ditelan perkembangan zaman.
“Bahasa daerah harus terus digunakan dan diwariskan kepada anak-anak. Jika kita sendiri tidak menggunakannya, lama-kelamaan bahasa itu akan hilang,” katanya.
Rapat kerja tersebut diharapkan melahirkan berbagai program yang mampu memperkuat solidaritas keluarga besar Bangen Tavai sekaligus berkontribusi terhadap pembangunan Kabupaten Malinau. Semangat persaudaraan yang terjalin diharapkan menjadi kekuatan untuk menjaga harmoni sosial, memperkokoh persatuan, serta memastikan nilai-nilai adat dan budaya tetap hidup di tengah arus modernisasi. (rko)

