TANA TIDUNG, Metrokaltara.com – Sejak resmi mengemban amanah sebagai Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Kalimantan Utara, 10 Juli 2026 lalu, Kabupaten Tana Tidung menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian dalam agenda kunjungan kerja perdana Irjen Pol Agus Wijayanto.
Kamis (20/8/2026), langkah kaki Kapolda Kaltara bersama istri dan jajaran Polda Kaltara tiba di Kabupaten Tana Tidung. Kedatangan tersebut disambut langsung Kapolres Tana Tidung AKBP Eko Nugroho di Markas Polres Tana Tidung.
Namun, kunjungan itu bukan sekadar agenda kedinasan. Di balik rangkaian kegiatan, terselip pesan kuat tentang pentingnya kebersamaan, komunikasi dan kepedulian dalam menjaga keamanan di daerah yang terus berkembang seperti Tana Tidung.
Kapolda juga mendapat sambutan melalui tradisi adat Tidung yang dipimpin langsung Ketua Lembaga Adat Tidung Kabupaten Tana Tidung, Aji Askandar Ali. Tradisi tersebut menjadi simbol penghormatan sekaligus gambaran kuatnya nilai-nilai kearifan lokal yang masih hidup di tengah masyarakat.
Dari suasana adat, rangkaian kunjungan kemudian berlanjut dalam coffee morning bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), tokoh masyarakat, tokoh adat dan tokoh agama.
Pertemuan berlangsung dalam suasana cair. Tidak hanya membicarakan persoalan keamanan, forum tersebut menjadi ruang untuk menyatukan pandangan tentang bagaimana seluruh elemen daerah dapat bergerak bersama menjaga situasi tetap aman dan kondusif.
Kapolda Apresiasi Kekompakan Forkopimda
Kapolres Tana Tidung AKBP Eko Nugroho mengatakan, dalam pertemuan tersebut Kapolda Kaltara memberikan apresiasi terhadap soliditas Forkopimda Tana Tidung.
Menurut Eko, Kapolda melihat kekompakan tersebut sebagai modal penting dalam menghadapi berbagai persoalan yang muncul di tengah masyarakat.
“Beliau menyampaikan bahwa beliau bangga kepada kita, khususnya Forkopimda. Karena kita terlihat guyub, kompak, baik dalam kegiatan maupun dalam penanganan masalah,” ujar Eko.
Kekompakan itu, lanjutnya, bukan hanya terlihat dalam kegiatan seremonial. Sinergitas Forkopimda juga tampak ketika daerah menghadapi persoalan yang membutuhkan respons cepat.
Salah satunya saat terjadi musibah kebakaran beberapa waktu lalu.
Kapolda, kata Eko, turut memantau pemberitaan mengenai penanganan kebakaran tersebut. Meski api menghanguskan sejumlah bangunan dan menjadi duka bagi warga, kesigapan berbagai unsur di lapangan dinilai mampu mencegah api meluas ke kawasan lainnya.
“Bagaimana kita bersatu menyelesaikan masalah. Walaupun memang banyak rumah yang terbakar, setidaknya kekuatan kita tidak sampai membuat kebakaran itu melebar,” katanya.
Keterbatasan Personel dan Sarpras Jadi Perhatian
Apresiasi juga diberikan kepada jajaran Polres Tana Tidung yang selama ini dinilai mampu menjaga situasi keamanan dan menangani potensi konflik, meski masih menghadapi keterbatasan personel.
Kondisi geografis dan karakteristik wilayah menjadi tantangan tersendiri bagi kepolisian. Karena itu, kebutuhan sumber daya manusia serta sarana dan prasarana menjadi bagian penting dalam penguatan pelayanan kepolisian di Tana Tidung.
Eko mengatakan, Kapolda Kaltara memberikan perhatian terhadap kebutuhan tersebut dan akan berupaya mendorong pemenuhannya secara bertahap.
Termasuk kebutuhan kendaraan operasional seperti truk yang diperlukan untuk mendukung mobilitas dan kegiatan kepolisian di lapangan.
“Untuk sarana prasarana, beliau menyampaikan akan berupaya. Karena di Polda tidak ada anggarannya, tetapi akan diupayakan seperti pengadaan truk dan kebutuhan lainnya,” jelas Eko.
Bagi Polres Tana Tidung, dukungan tersebut menjadi angin segar. Sebab, penguatan sarana operasional bukan sekadar soal fasilitas, melainkan berkaitan langsung dengan kemampuan aparat menjangkau masyarakat dan merespons persoalan secara cepat.
Media, Tokoh Adat dan Tokoh Agama Diminta Terus Dirangkul
Ada pesan lain yang disampaikan Kapolda dan dianggap tidak kalah penting. Yakni memperkuat hubungan dengan seluruh elemen masyarakat.
Polisi tidak bisa bekerja sendiri. Keamanan, menurut pesan Kapolda, lahir dari komunikasi yang terjaga antara kepolisian dengan Forkopimda, media, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat hingga masyarakat secara luas.
“Pesan beliau untuk sementara meningkatkan soliditas dengan eksternal, baik dengan rekan-rekan media, Forkopimda maupun tokoh adat dan tokoh agama. Jalinan silaturahmi itu akan membentuk keamanan di Kabupaten Tana Tidung,” ungkap Eko.
Pesan tersebut menjadi penting di tengah dinamika pembangunan Tana Tidung. Daerah yang terus bertumbuh membutuhkan suasana yang aman agar pembangunan, aktivitas ekonomi dan kehidupan sosial masyarakat dapat berjalan dengan baik.
Kunjungan Kapolda tidak berhenti di ruang pertemuan. Di tengah agenda menjaga keamanan, kepedulian terhadap warga yang sedang menghadapi musibah juga menjadi bagian dari rangkaian kunjungan.
Kapolda Kaltara menyerahkan bantuan sembako kepada korban kebakaran. Sebanyak sekitar 73 paket bantuan disiapkan untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar warga terdampak. Bantuan tersebut berisi berbagai kebutuhan pokok, di antaranya beras, gula dan kebutuhan sembako lainnya.
“Bantuan itu lengkap, ada sembako. Ada beras, gula dan kebutuhan sembako umum. Jumlahnya sekitar 73 paket,” jelas Eko.
Bantuan itu mungkin tidak mampu mengembalikan rumah dan harta benda yang hilang dalam sekejap. Tetapi bagi warga yang sedang berusaha bangkit dari musibah, perhatian tersebut menjadi tanda bahwa mereka tidak berjalan sendiri.
Ada pula sisi lain dari kunjungan Kapolda yang menyentuh isu ketahanan pangan. Sebelum rangkaian kegiatan berakhir, dilakukan penaburan sekitar 3.000 ekor bibit ikan nila.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memanfaatkan lahan sekaligus mendukung program ketahanan pangan.
Menariknya, hasil budidaya ikan tersebut nantinya tidak diarahkan untuk kepentingan komersial.
Eko mengatakan, ketika ikan telah tumbuh besar, hasilnya akan dibagikan kepada masyarakat pada momentum tertentu.
“Kurang lebih hampir 3.000 ekor kita tabur, kita ganti dengan nila. Harapannya kalau nanti tumbuh besar, pada momen tertentu akan kita bagikan kepada masyarakat. Mungkin Natal, tahun baru atau 1 Juli tahun depan,” katanya.
Ia menegaskan, ikan hasil budidaya tersebut tidak akan dijual.
“Ini tidak kita jual, tetapi kita bagikan kepada masyarakat,” pungkasnya.
Kunjungan perdana Kapolda Kaltara ke Tana Tidung akhirnya tidak hanya meninggalkan catatan tentang agenda kepolisian.
Lebih dari itu, kunjungan tersebut memperlihatkan bahwa keamanan tidak dibangun hanya melalui patroli dan penegakan hukum. Keamanan juga tumbuh dari meja pertemuan, dari silaturahmi, dari kepedulian terhadap korban bencana, bahkan dari kolam sederhana tempat ribuan bibit ikan ditaburkan.
Di Tana Tidung, pesan itu menemukan ruangnya. Polisi, pemerintah, tokoh adat, tokoh agama, media dan masyarakat harus berjalan dalam satu irama. Karena ketika semua elemen saling menguatkan, persoalan yang berat sekalipun akan lebih mudah dihadapi bersama.
Kunjungan perdana Irjen Pol Agus Wijayanto pun menjadi momentum untuk memperkuat fondasi tersebut—bahwa menjaga Bumi Upun Taka tetap aman bukan hanya tugas aparat, melainkan tanggung jawab bersama. (rko)




