Saat Loreng Turun ke Sungai, Semangat Gotong Royong Pun Mengalir

by Isman Toriko

TANA TIDUNG,Metrokaltara.com – Pagi itu, udara di bantaran terasa lebih hidup dari biasanya. Derap langkah prajurit berseragam loreng berpadu dengan canda warga yang membawa cangkul, parang, dan karung sampah. Di Desa , Kecamatan , semangat kebersamaan menyatu dalam Karya Bakti yang digelar bersama masyarakat, Jumat (13/02/2026).

Sejak pukul 08.00 WITA, satu per satu tumpukan sampah di tepian sungai mulai disingkirkan. Ranting kering dipotong, semak belukar dirapikan, dan aliran air yang sebelumnya tertutup kotoran perlahan kembali terlihat jernih. Aktivitas ini bukan sekadar kerja fisik, tetapi juga menjadi simbol kepedulian terhadap lingkungan yang menjadi urat nadi kehidupan warga setempat.

Kehadiran jajaran TNI di tengah masyarakat—mulai dari Pasi Ter Kapten Inf. Tri Pujiono, Plh Pasi Intel Kapten Inf. Soefyan Hardjono, S.Sos, hingga Danramil 0914-01/Ssy Kapten Inf. Subadi Prasetyo—menjadi energi tersendiri. Bersama Kepala Desa Riyadi, unsur DLH, dan warga, mereka bekerja tanpa sekat, membaur dalam ritme gotong royong yang hangat dan penuh keakraban.

Di sela kegiatan, percakapan ringan tentang pentingnya menjaga sungai sebagai sumber air, jalur transportasi, sekaligus penopang ekonomi warga, mengalir alami.

Karya Bakti ini pun menjelma menjadi ruang edukasi sosial—mengajak masyarakat untuk melihat kebersihan lingkungan bukan sekadar kewajiban sesaat, melainkan tanggung jawab bersama yang berkelanjutan.

Lebih dari sekadar aksi bersih-bersih, kegiatan ini menghadirkan pesan kuat tentang kemanunggalan TNI dan rakyat. Kedekatan yang terbangun melalui kerja bersama menumbuhkan rasa saling percaya, sekaligus memperkuat ikatan emosional yang menjadi fondasi ketahanan sosial di daerah.

Menjelang pukul 11.30 WITA, pekerjaan pun rampung. Bantaran sungai tampak lebih lapang, aliran air kembali terbuka, dan wajah-wajah lelah dipenuhi kepuasan. Tidak ada seremoni besar, hanya senyum dan jabat tangan—tanda bahwa kolaborasi sederhana mampu menghadirkan dampak nyata.

Karya Bakti ini menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak selalu dimulai dari proyek besar. Kadang, ia lahir dari langkah kecil memungut sampah bersama, membersihkan sungai, dan merawat ruang hidup dengan rasa memiliki.

Dari sana, semangat kebersamaan tumbuh—mengalir seperti Sungai Sesayap, menguatkan harapan akan lingkungan yang lebih bersih dan masyarakat yang semakin solid di Kabupaten. (rko)

Related Articles

Bagaimana Tanggapan Anda?....

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses