TARAKAN – TA memberikan klarifikasi terkait beredarnya video kedatangannya ke rumah keluarga F yang kemudian muncul di sejumlah media sosial. TA membantah narasi yang menyebut kedatangannya sebagai bentuk intimidasi maupun teror terhadap pihak keluarga F.
TA menjelaskan, dirinya datang ke rumah keluarga F pada malam hari bersama seorang rekannya RS dengan tujuan bersilaturahmi sekaligus ingin bertemu dengan F. Kedatangan tersebut, menurutnya, dilatarbelakangi keinginan untuk mencari jalan penyelesaian secara baik-baik terkait persoalan yang sebelumnya sempat menjadi perhatian publik dan mengaitkan nama Direktur PDAM, Iwan Setiawan.
“Saya datang dengan niat baik, ingin silaturahmi dan bertemu dengan saudara F. Saya ingin mencari jalan yang baik, kalau bisa permasalahan ini diselesaikan secara kekeluargaan, apa lagi pak Iwan ini sudah saya anggap Sebagai keluarga ujar TA, Selasa (18/8/26).
TA mengatakan, dirinya dan keluarga F berada dalam lingkungan RT yang sama hanya terpaut 3 rumah, sehingga hubungan tempat tinggal mereka cukup dekat. Atas dasar itu, ia berinisiatif menemui F secara langsung agar persoalan yang ada dapat dibicarakan dengan baik.
Setibanya di lokasi, TA mengaku disambut dengan baik oleh pihak keluarga F. Ia sempat mendapat sejumlah pertanyaan mengenai maksud dan tujuan kedatangannya.
TA kemudian menjelaskan bahwa dirinya datang untuk bersilaturahmi dan ingin bertemu dengan F. Namun, karena F tidak berada di rumah, TA memilih untuk tidak berlama-lama di lokasi.
“Saya tidak mau panjang lebar karena saudara F juga tidak ada di rumah. Saya merasa tidak enak kalau terlalu lama di sana, takutnya nanti orang berpikir lain. Jadi kedatangan kami hanya sebentar,” katanya.
Persoalan muncul setelah TA mengetahui bahwa kedatangannya ternyata direkam dan video tersebut kemudian beredar di media sosial. Ia mengaku kaget setelah mendapatkan informasi dari seorang temannya pada malam 17 Agustus sekitar pukul 23.47 WITA.
“Saya kaget, kok bisa ada video saya diposting. Walaupun videonya sudah diblur, tetapi sempat terlihat jelas muka saya. Ditambah lagi ada keterangan yang mengatakan saya datang ke sana seakan-akan mengintimidasi dan meneror pihak keluarga saudara F,” ungkap TA.
TA membantah keras narasi tersebut. Ia menegaskan bahwa selama berada di rumah keluarga F, dirinya tidak pernah melontarkan perkataan yang tidak pantas maupun ucapan yang menurutnya dapat dikategorikan sebagai ancaman atau intimidasi.
“Padahal waktu itu saya tidak ada sama sekali, sedikit pun melontarkan kata-kata yang tidak pantas. Saya datang baik-baik dan tidak ada maksud untuk mengintimidasi atau meneror siapa pun,” tegasnya.
TA juga menjelaskan bahwa dirinya memang tidak menyampaikan secara langsung kepada pihak keluarga F bahwa salah satu tujuan kedatangannya adalah mencari penyelesaian secara kekeluargaan. Menurutnya, hal itu karena F tidak berada di rumah dan ia tidak ingin pembicaraan menjadi panjang.
“Saya memang mengatakan secara detail bahwa saya ingin menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan. Karena saudara F tidak ada dan saya tidak mau berlama-lama di sana. Tapi niat saya memang baik,” jelasnya.
TA berharap klarifikasi tersebut dapat meluruskan informasi yang berkembang di media sosial. Ia menegaskan bahwa kedatangannya dilakukan dengan itikad baik dan berharap persoalan yang ada dapat diselesaikan melalui komunikasi serta pendekatan kekeluargaan.
“Saya datang ke sana murni dengan tujuan baik. Tidak ada maksud apa-apa, apalagi untuk mengintimidasi atau meneror pihak keluarga saudara F,” pungkasnya.

