TARAKAN – Wali Kota Tarakan, dr. Khairul, M.Kes, meninjau pabrik bubur kertas milik PT Phoenix Resources Internasional (PRI) yang berlokasi di Kelurahan Juata Permai, Kecamatan Tarakan Utara, Selasa (30/9/2025).
Dalam kunjungan tersebut, Khairul didampingi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Utara, Kepala BPS Tarakan, para asisten, serta sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kota Tarakan. Rombongan disambut oleh Manager SSL PT PRI, Oemar Kadir, bersama staf humas perusahaan.
Khairul meninjau langsung seluruh bagian pabrik, mulai dari proses produksi, bahan baku, hingga pengelolaan limbah. Ia menjelaskan bahwa kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat secara langsung operasional pabrik sekaligus menindaklanjuti sejumlah persoalan yang dikeluhkan masyarakat, terutama terkait dugaan pencemaran laut akibat limbah pabrik.
“Penjelasan manajemen tadi yang kita dapatkan bahwa di awal commissioning memang limbah buangan ada yang tidak memenuhi baku mutu lingkungan. Namun setelah dilakukan perbaikan, hasil uji laboratorium terakhir menunjukkan sudah memenuhi standar,” ujar Khairul.
Ia menyebutkan, hasil uji laboratorium bulan Agustus dan September 2025 menunjukkan limbah pabrik telah sesuai baku mutu. Namun, Pemkot Tarakan tetap menunggu hasil uji dari Sucofindo untuk memastikan kepatuhan perusahaan terhadap aturan lingkungan.
Selain soal limbah, Khairul juga menyoroti keluhan warga terkait genangan air di kebun sekitar pabrik. Menurutnya, persoalan itu lebih disebabkan oleh sistem drainase yang kurang baik. Aliran air pembuangan mengarah ke laut, sehingga ketika hujan deras bertepatan dengan air pasang, air meluap ke lahan masyarakat.
“Kami lihat ini persoalan drainase. Air yang tertampung itu murni campuran air hujan dan air laut, bukan buangan pabrik,” tegas Khairul.
Ia menginstruksikan Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) untuk memberikan pendampingan teknis agar perusahaan dapat melakukan langkah perbaikan.
Dari sisi produksi, Khairul menyampaikan bahwa kapasitas pabrik masih di bawah 50 persen. Hal ini disebabkan penyesuaian mesin yang masih berlangsung sejak pabrik mulai beroperasi beberapa bulan lalu.
“Produksinya belum optimal karena masih dalam tahap pengaturan mesin. Saya berharap tahun ini bisa meningkat,” ujarnya.
Sementara itu, terkait tenaga kerja, Khairul mengakui jumlah pekerja jauh berkurang dibandingkan masa pembangunan pabrik. Dari sekitar 8.000 pekerja, kini hanya tersisa sekitar 1.000 orang seiring beralihnya sistem kerja yang lebih banyak menggunakan mesin.
Meski demikian, perusahaan disebut tetap mempekerjakan tenaga kerja lokal melalui vendor lokal, sesuai kemampuan dan keahlian yang dibutuhkan.
Khairul menegaskan, Pemkot Tarakan berkomitmen untuk tetap mengawal kepentingan masyarakat, baik terkait persoalan lingkungan maupun kesejahteraan tenaga kerja di sekitar pabrik.


