Nunukan, MK – Buntut aliran listrik yang kerap Byar Pet, sejumlah warga Sebatik mendatangi kantor DPRD Nunukan, Senin (9/10/2023). Para warga meminta penjelasan dari pihak PLN melalui Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang di fasilitasi oleh pihak DPRD Nunukan.
Warga mempertanyakan keseriusan pemerintah pusat terhadap perhatian di wilayah perbatasan. Terutama persoalan listrik yang seakan menjadi persoalan klasik yang tak kunjung mendapatkan solusi. Sedangkan notabanenya, Pulau Sebatik yang berbatasan langsung sangat berbanding terbalik dengan Tawau, Malaysia.
“Di Malaysia itu seperti tidak pernah mati lampu. Sedangkan kita (di Sebatik) mati lampu terus. Katanya membangun dari pinggiran, kok persoalan listrik tidak pernah ada solusinya,” kata salah satu warga, Asnawi.
Pulau sebatik, tegas dia seharusnya mendapatkan perhatian serius dari pemerintah. Apalagi, Pulau Sebatik menjadi garda terdepan dan menjadi cerminan mengenai pembangunan negara Indonesia. Sedangkan persoalan listrik yang sudah dirasakan sejak dulu, diakuinya hingga kini masih terus dirasa oleh masayarakat.
“Tolong disampaikan kepada Pak Erick Tohir, soal keluhan listrik ini. Harusnya menjadi perhatian dia juga. Jangan tunggu viral dulu, baru di perhatikan,” kesalnya.
Keluhan masyarakat mengenai listrik juga di suarakan oleh kalangan mahasiswa. Mahasiswa yang rencananya akan melakukan aksi demo di depan Kantor PLN Nunukan, terpaksa beralih ke kantor DPRD Nunukan. Lantaran pimpinan dari PLN Nunukan sedang berada di kantor DPRD Nunukan menggelar RDP bersama warga Sebatik.
Melalui aksi demo yang dilakukan, mahasiswa membawa 4 tuntutan mereka kepada pihak PLN. Pertama meminta adanya keterbukaan informasi dari PLN mengenai persoalan listrik di Kabupaten Nunukan. Kemudian, mahasiswa meminta adanya penambahan daya mesin sebagai solusi jangka pendek serta meminta percepatan pembangunan PLTMG Sebaung.
“Kami juga meminta agar PLN menghilangkan pemadaman listrik bergilir di Nunukan yang sudah seolah menjadi budaya,” bunyi tuntutan mahasiswa yang keempat.

