Sementara koordinator lapangan, Faizal mengungkapkan persoalan listrik merupakan persoalan yang cukup krusial. Lantaran berdampak pada seluruh sektor, baik dari pemerintah, sektor Pendidikan hingga sektor ekonomi. Dikatakannya, sejumlah usaha menjadi terhambat lantaran kondisi listrik yang kerap byar pet. Bahkan, lanjut dia, tak sedikit perabotan rumah tangga masyarakat menjadi rusak akibat listrik yang tiba-tiba mati tiba-tiba hidup.
“Kita minta keterbukaan dari pihak PLN. Kami kaya dari segi alam, tapi miskin dari segi penerangan listrik. Kita butuh solusinya, bukan sekedar janji yang hanya menjadi penenang bagi masyarakat,” tegasnya.
Menanggapi persoalan listrik, Manager PLN UP3 Kaltara Arief Prastyanto menyampaikan, sejak akhir Juli 2023, terjadi gangguan pada PLTD Sei Bilal dan juga tekanan gas di PLTMG Sebaung yang tidak stabil, sehingga PLTMG Sebaung mengalami penurunan daya mampu.
“Kondisi saat ini daya mampu pembangkit di Sistem Nunukan berkisar 14 sampai 15 MW dengan beban puncak tertinggi mencapai 15,8 MW. praktis kita mengalami defisit sekitar 1 MW,’’katanya.
Selain karena defisit, pertumbuhan jumlah pelanggan dari natural growth pelanggan eksisting juga menjadi salah satu penyebab. Disebutkannya, pelanggan eksisting, dengan asumsi 94,6 persen dan pelanggan baru, sekitar 5,34 persen yang meningkat tahun 2023 ini. Untuk mengatasi persoalan tersebut, PLN Nunukan sudah merelokasi 2 mesin PLTD dengan kapasitas 2×1 MW dari Kota Tarakan, yang saat ini masih proses masuk sistem.
Selanjutnya, PLN menjanjikan 2 unit mesin PLTMG dengan kapasitas 4 MW, untuk memperkuat daya pasok sistem di Nunukan.
“Nantia da juga tambahan mesin PLTD yang akan sampai pada 6 Oktober 2023 nanti. Target kita, di pertengahan Oktober nanti, sudah tidak ada lagi pemadaman bergilir. Nanti akan kita upayakan lagi untuk solusi jangka menengah dan tahun depan mesin PLTMG sudah dikirim ke Nunukan,” pungkasnya.

