TARAKAN – Bank Indonesia mencatat inflasi Provinsi Kalimantan Utara pada April 2026 tetap terjaga dalam kisaran target nasional. Berdasarkan data yang diolah dari Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi tahunan (year on year/yoy) Kaltara tercatat sebesar 2,68 persen.
Kepala KPwBI Kalimantan Utara, Hasiando G. Manik, menyampaikan bahwa secara bulanan inflasi Kaltara tercatat sebesar 0,02 persen (month to month/mtm).
“Inflasi Kalimantan Utara masih berada dalam rentang sasaran nasional dan relatif terkendali,” ujar Hasiando, Senin (11/5/26).
Ia menjelaskan, kenaikan inflasi pada April 2026 terutama dipengaruhi oleh naiknya harga sejumlah komoditas pangan dan transportasi. Komoditas tomat menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,10 persen, disusul angkutan udara sebesar 0,08 persen, bawang merah 0,04 persen, angkutan laut 0,03 persen, dan air kemasan 0,02 persen.
Menurut Hasiando, kenaikan harga tomat dan bawang merah dipicu terbatasnya pasokan di pasaran. Sementara itu, tarif angkutan udara mengalami peningkatan akibat naiknya harga avtur.
Di sisi lain, inflasi Kaltara tertahan oleh sejumlah komoditas yang mengalami penurunan harga atau deflasi. Cabai rawit menjadi penyumbang deflasi terbesar dengan andil minus 0,16 persen, diikuti daging ayam ras dan emas perhiasan masing-masing minus 0,10 persen.
Selain itu, ikan layang atau ikan benggol turut menyumbang deflasi sebesar minus 0,08 persen serta telur ayam ras sebesar minus 0,02 persen.
Berdasarkan wilayah, Kota Tarakan mencatat inflasi tahunan sebesar 2,90 persen, Tanjung Selor 3,10 persen, dan Nunukan 2,05 persen. Secara bulanan, Tarakan mengalami deflasi 0,06 persen, sedangkan Tanjung Selor dan Nunukan masing-masing mengalami inflasi 0,23 persen dan 0,04 persen.
Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus memperkuat koordinasi pengendalian inflasi, terutama menjaga ketersediaan pasokan pangan dan kelancaran distribusi antarwilayah guna menjaga stabilitas harga di Kalimantan Utara.

