MALINAU, Metrokaltara.com — Pagi itu, tawa anak-anak pecah di sudut Desa Punan Bengalun, Kecamatan Malinau Barat. Di tengah keterbatasan yang selama ini kerap membayangi wilayah pedalaman, semangat Hari Kartini 2026 hadir dalam wujud sederhana namun bermakna, buku, pensil warna, dan perhatian yang tulus.
Melalui momentum peringatan Hari Kartini, Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Malinau mengambil langkah yang tak sekadar seremonial. Mengusung tema besar “Pemberdayaan Perempuan dalam Sektor Kesehatan, Pendidikan dan Ekonomi di Indonesia”, kegiatan ini dipertegas dengan subtema “Aksi Nyata Hari Kartini. Gerakan Bersama Membaca, Menulis dan Mewarnai Bersama Anak Usia Dini”. Sasaran mereka jelas—anak-anak Kelompok Bermain di desa yang selama ini jauh dari sorotan.
Pilihan lokasi di Desa Punan Bengalun bukan tanpa alasan. Di balik keindahan alamnya, desa ini menyimpan cerita tentang kesenjangan akses pendidikan antara kota dan pedalaman. Ketua DWP Kabupaten Malinau, Rostinawati Ernes, menegaskan bahwa perhatian terhadap pendidikan tidak boleh lagi berat sebelah.
“Selama ini kita melihat perhatian lebih banyak terpusat di kota. Melalui kegiatan ini, kami ingin memastikan bahwa anak-anak di desa juga merasakan kehadiran dan kepedulian yang sama,” ujarnya.
Suasana kegiatan berlangsung hangat dan penuh interaksi. Anak-anak tampak antusias mengikuti dongeng, menjawab pertanyaan, hingga mengekspresikan imajinasi mereka melalui warna-warni di atas kertas gambar. Bagi mereka, kegiatan ini bukan sekadar bermain—tetapi pengalaman baru yang membuka jendela pengetahuan.
Tak hanya membawa semangat, DWP juga menyalurkan bantuan nyata. Buku bacaan, alat tulis, pensil warna, hingga buku gambar dibagikan untuk menunjang proses belajar anak-anak. Bahkan, perhatian terhadap lingkungan belajar juga diperlihatkan melalui pemberian perlengkapan kebersihan seperti sapu, sapu lidi, dan pengki. Tak ketinggalan, makanan tambahan turut diberikan sebagai bentuk kepedulian terhadap gizi anak.
Lebih dari sekadar peringatan Hari Kartini, kegiatan ini menjadi refleksi bahwa perjuangan emansipasi perempuan kini menjelma dalam aksi-aksi konkret—menghadirkan pendidikan yang lebih merata, membangun generasi sejak usia dini, dan memastikan tak ada anak yang tertinggal hanya karena mereka lahir di pelosok.
Di Desa Punan Bengalun, Kartini hidup dalam bentuk yang sederhana—di tangan-tangan kecil yang menggenggam pensil warna, di mata yang berbinar saat mendengar cerita, dan di harapan yang perlahan tumbuh, seterang warna yang mereka goreskan. (rko)


