MALINAU, Metrokaltara.com – Denting gong yang menggema di Panggung Budaya Padan Liu’ Burung, Kamis malam (21/05/2026), menjadi penanda dimulainya Festival Seni dan Budaya Dayak Lundayeh ke-III Tahun 2026. Di bawah cahaya lampu panggung dan balutan busana adat penuh warna, semangat pelestarian budaya terasa hidup di tengah antusiasme masyarakat yang memadati arena festival.
Festival tahunan yang digelar Pemerintah Kabupaten Malinau itu resmi dibuka oleh Wakil Bupati Malinau, . Kegiatan ini menjadi lebih dari sekadar pertunjukan seni. Ia hadir sebagai ruang pertemuan antara tradisi leluhur dengan kreativitas generasi muda yang terus tumbuh di tengah perkembangan zaman.
Dalam sambutannya, Jakaria menegaskan bahwa generasi muda memiliki peran strategis sebagai penjaga sekaligus penggerak kebudayaan daerah. Menurutnya, budaya tidak boleh berhenti hanya sebagai simbol seremonial, tetapi harus mampu menjadi identitas hidup yang diwariskan dan dikembangkan.
“Festival ini bukan hanya hiburan semata, tetapi juga wadah pelestarian budaya, sarana edukasi, sekaligus ruang kolaborasi bagi pelaku seni dan budaya di Kabupaten Malinau,” ujarnya di hadapan peserta dan tamu undangan.
Mengusung tema “Ruang Tradisi, Wajah Kreasi”, festival ini membawa pesan kuat bahwa tradisi bukan benda mati yang tersimpan dalam ingatan masa lalu. Tradisi justru menjadi sumber inspirasi yang mampu melahirkan karya-karya baru tanpa kehilangan akar budaya.
Di tengah derasnya arus modernisasi, Pemerintah Kabupaten Malinau ingin menunjukkan bahwa budaya Dayak Lundayeh tetap relevan dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Ragam pertunjukan seni, tarian adat, musik tradisional hingga kreativitas anak-anak muda menjadi bukti bahwa warisan leluhur masih hidup dan terus bergerak.
“Tradisi adalah sumber inspirasi, fondasi identitas serta jembatan antara warisan leluhur dan semangat kekinian. Ke depan kita berharap lahir karya-karya kreatif berbasis budaya lokal yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif daerah,” tegas Jakaria.
Suasana pembukaan festival berlangsung meriah namun sarat makna. Sorak tepuk tangan penonton pecah setiap kali penampilan seni budaya dipertontonkan. Ornamen khas Dayak menghiasi area panggung, menghadirkan nuansa etnik yang kuat sekaligus memperlihatkan kekayaan budaya Malinau yang masih terjaga.
Festival ini juga menjadi ruang silaturahmi antargenerasi. Para tetua adat, seniman, pemuda hingga masyarakat umum hadir dalam satu semangat yang sama: menjaga identitas budaya agar tidak tergerus waktu.
Wabup Jakaria turut mengingatkan seluruh peserta agar menjunjung tinggi sportivitas dan persaudaraan selama mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Ia berharap kreativitas yang ditampilkan tetap berpijak pada nilai-nilai luhur budaya Dayak Lundayeh.
Dengan dibukanya Festival Seni dan Budaya Dayak Lundayeh ke-III Tahun 2026, Pemerintah Kabupaten Malinau berharap budaya lokal semakin dikenal luas, tidak hanya di tingkat daerah tetapi juga mampu menembus perhatian nasional. Di tangan generasi muda, budaya diharapkan tidak hanya bertahan, tetapi berkembang menjadi kekuatan ekonomi dan identitas daerah yang membanggakan. (rko)


