TANA TIDUNG, Metrokaltara.com – Di tengah padatnya agenda pemerintahan, Bupati Kabupaten Tana Tidung, Ibrahim Ali, menyempatkan diri melakukan ziarah ke makam ulama besar Kalimantan, Syekh Muhammad Ali Junaidi Al-Banjari, yang berada di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.
Kegiatan tersebut dilakukan bersama KH. Muhammad Syafi’i Aslam sebagai bentuk penghormatan kepada para ulama yang telah berjasa menyebarkan nilai-nilai Islam dan membangun peradaban masyarakat melalui dakwah serta keteladanan.
Suasana khidmat menyelimuti kompleks makam saat rombongan tiba. Langkah demi langkah menuju pusara ulama kharismatik itu seakan membawa setiap peziarah menembus lorong waktu, mengenang perjuangan para pendahulu yang mengabdikan hidupnya untuk membimbing umat.
Di hadapan makam, lantunan doa dan ayat suci Al-Qur’an dipanjatkan. Bukan sekadar tradisi, ziarah tersebut menjadi momen refleksi spiritual yang mengingatkan akan pentingnya menghargai jasa para ulama sebagai penjaga nilai-nilai keislaman dan moral di tengah perkembangan zaman yang semakin dinamis.
Bupati Ibrahim Ali mengatakan bahwa para ulama memiliki peran besar dalam membangun karakter masyarakat. Melalui dakwah yang santun dan penuh hikmah, para tokoh agama telah mewariskan nilai-nilai kebajikan yang hingga kini masih menjadi pedoman kehidupan.
“Ziarah ini menjadi pengingat bagi kita semua tentang perjuangan para pendahulu, khususnya para ulama yang telah mengabdikan hidupnya untuk menyebarkan ilmu dan kebaikan. Kita tidak hanya datang untuk berdoa, tetapi juga mengambil pelajaran dari keteladanan mereka,” ujar Ibrahim Ali.
Menurutnya, sosok Syekh Muhammad Ali Junaidi Al-Banjari merupakan salah satu figur ulama yang memberikan pengaruh besar dalam perkembangan syiar Islam di Kalimantan. Jejak perjuangan dan pengabdiannya menjadi warisan berharga yang patut dijaga dan diteruskan oleh generasi masa kini.
Sementara itu, KH. Muhammad Syafi’i Aslam menuturkan bahwa tradisi ziarah makam ulama memiliki makna mendalam sebagai sarana memperkuat hubungan spiritual sekaligus menumbuhkan rasa hormat kepada para pendahulu yang telah berjasa bagi umat.
Ia menjelaskan bahwa mengenang para ulama bukan berarti mengagungkan pribadi mereka, melainkan menghargai perjuangan, ilmu, dan nilai-nilai kebaikan yang mereka wariskan kepada masyarakat.
“Para ulama telah memberikan contoh kehidupan yang sederhana, penuh keikhlasan, dan pengabdian. Nilai-nilai inilah yang perlu terus kita hidupkan dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Di tengah keheningan kompleks makam, rombongan tampak larut dalam doa dan perenungan. Angin yang berhembus pelan seolah menjadi saksi bisu perjalanan panjang dakwah yang pernah dilakukan sang ulama. Bagi para peziarah, makam bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir, melainkan ruang untuk belajar tentang makna pengabdian, keikhlasan, dan keteguhan dalam menjalankan amanah kehidupan.
Kegiatan ziarah tersebut juga menjadi pesan bahwa pembangunan daerah tidak hanya berfokus pada aspek fisik dan ekonomi, tetapi juga harus dibarengi dengan penguatan nilai-nilai spiritual dan moral masyarakat. Dengan meneladani perjuangan para ulama, diharapkan lahir generasi yang tidak hanya cerdas dan berdaya saing, tetapi juga memiliki karakter yang kuat serta menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan.
Melalui ziarah ke makam Syekh Muhammad Ali Junaidi Al-Banjari, Bupati Ibrahim Ali kembali menegaskan pentingnya menjaga hubungan antara pembangunan dan spiritualitas. Sebab, kemajuan sebuah daerah tidak hanya diukur dari infrastruktur yang berdiri megah, tetapi juga dari kuatnya nilai-nilai kebaikan yang hidup di tengah masyarakat. (rko)



