Jakarta, KTV – Pemerintah Kabupaten Nunukan terus berkomitmen meningkatkan kualitas pelayanan publik dan tata kelola pemerintahan di tingkat akar rumput. Sebagai langkah nyata, Pemkab Nunukan mengutus tujuh camat dari wilayah strategis untuk mengikuti Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Kepamongan yang dilaksanakan di Jakarta.
Kegiatan penting ini didampingi langsung oleh Sekretaris Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kabupaten Nunukan, Wahyudin, S.STP. Kehadiran pihak BKPSDM ini menegaskan keseriusan pemda dalam mengawal pengembangan kompetensi aparatur sipil negara (ASN) di wilayah beranda negara.
Adapun tujuh camat yang ditugaskan oleh Pemerintah Kabupaten Nunukan dalam diklat ini meliputi: Camat Sebuku, Camat Sembakung, Camat Sebatik Induk, Camat Sebatik Barat, Camat Sebatik Timur, Camat Sebatik Utara, Camat Sebatik Tengah.
Diklat kepamongan ini menjadi agenda krusial bagi Pemerintah Kabupaten Nunukan. Mengingat wilayah Sebuku, Sembakung, dan khususnya kawasan Sebatik berbatasan langsung dengan negara tetangga, peran camat tidak hanya sebatas fungsi administratif, melainkan juga sebagai roda penggerak stabilitas dan garda terdepan pembangunan nasional.
Selama di Jakarta, para camat digembleng dengan berbagai materi strategis, mulai dari kepemimpinan kolaboratif, manajemen konflik, koordinasi lintas sektor, hingga penguatan Pelayanan Administrasi Terpadu Kecamatan (PATEN).
“Pemerintah Kabupaten Nunukan berharap diklat ini dapat melahirkan pemimpin wilayah yang responsif, adaptif, dan memiliki jiwa kepamongan yang kuat. Camat adalah perpanjangan tangan bupati yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, sehingga kapasitas mereka harus terus di-upgrade,” ujar Sekretaris BKPSDM Nunukan, Wahyudin, S.STP. di sela-sela kegiatan.
Melalui pelatihan intensif ini, BKPSDM dan Pemerintah Kabupaten Nunukan menargetkan adanya peningkatan signifikan dalam efisiensi birokrasi serta lahirnya inovasi pelayanan baru di tujuh kecamatan tersebut.
Kegiatan yang berlangsung di Jakarta ini berjalan dengan khidmat dan interaktif, diisi dengan sesi diskusi panel serta bedah kasus mengenai optimalisasi potensi daerah dan penyelesaian masalah sosial di tingkat lokal. (**)

