TARAKAN, Metrokaltara.com – Pagi itu, suasana lantai empat Gedung Rektorat terasa berbeda. Auditorium dipenuhi ratusan mahasiswa yang bersiap menapaki gerbang akhir masa studi. Namun sebelum toga dikenakan, mereka lebih dulu dibekali satu hal penting: arah.
Di momen Kuliah Umum Bimbingan Karier Pra Wisuda ke-42, Rabu (8/4/2026), hadir sosok yang tak asing bagi pembangunan Kalimantan Utara, Bupati Malinau . Ia datang bukan sekadar sebagai kepala daerah, melainkan sebagai narasumber yang membawa pengalaman, realitas lapangan, sekaligus harapan besar bagi generasi muda.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Wisuda ke-42 UBT yang mengusung tema besar “SDM Berkualitas sebagai Pilar Utama Kemajuan Daerah: Menyongsong Indonesia Emas, Peran Wisudawan UBT dalam Transformasi Daerah.” Tema tersebut seolah menjadi benang merah dari seluruh materi yang disampaikan—bahwa masa depan daerah, bahkan bangsa, sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia hari ini.
Di hadapan mahasiswa sarjana hingga pascasarjana, Wempi memaparkan berbagai program strategis yang tengah dijalankan di Kabupaten Malinau. Ia menekankan bahwa pembangunan tidak lagi hanya bertumpu pada infrastruktur fisik, tetapi juga pada pembangunan manusia yang berdaya saing, adaptif, dan berkarakter.
“Daerah tidak akan bergerak cepat tanpa SDM yang kuat. Karena itu, investasi terbesar hari ini adalah pada manusia,” ungkapnya, disambut antusias peserta.
Dalam penyampaiannya, ia juga menyinggung bagaimana tantangan daerah perbatasan seperti Malinau justru membuka peluang besar bagi generasi muda untuk berkontribusi. Menurutnya, transformasi daerah membutuhkan keberanian untuk kembali, mengabdi, dan menciptakan perubahan dari tanah sendiri.
Suasana kuliah umum tak hanya berlangsung formal. Sesekali, Wempi menyelipkan kisah perjalanan dan pengalaman kepemimpinannya, membuat materi terasa lebih dekat dan membumi. Bagi para mahasiswa, ini bukan sekadar teori karier, melainkan gambaran nyata tentang bagaimana peran mereka kelak akan diuji.
Di akhir sesi, ia menyampaikan harapan yang sederhana namun kuat—agar para lulusan tidak berhenti belajar setelah wisuda.
“Jangan pernah merasa selesai. Dunia berubah cepat, dan kalian harus lebih cepat lagi beradaptasi. Terus belajar, terus bergerak, dan jangan ragu bermimpi besar untuk daerah ini,” pesannya.
Kuliah umum ini pun menjadi lebih dari sekadar agenda seremonial. Ia menjelma ruang refleksi sekaligus titik awal bagi para calon wisudawan untuk menatap masa depan—dengan bekal ilmu, semangat, dan tanggung jawab untuk ikut membangun Kalimantan Utara menuju masa depan yang lebih maju. (rko)



