TANA TIDUNG, Metrokaltara.com – Pagi itu, ruang pertemuan Hotel Galaxy Tarakan terasa berbeda. Deretan meja beralas putih, aroma kopi hangat yang baru diseduh, dan wajah-wajah penuh semangat dari para guru seakan menandai babak baru dalam perjalanan mereka.
Sebagian dari mereka sudah puluhan tahun mengabdi di ruang-ruang kelas, namun hari itu mereka datang sebagai peserta—calon pemimpin pendidikan yang siap mengubah wajah sekolah di Kabupaten Tana Tidung.
Di hadapan para peserta, Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan Dasar, Jumadilriansyah, S.Sos, berdiri mewakili Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Arman Jauhari untuk membuka Pelatihan Bakal Calon Kepala Sekolah, Selasa, 2 November 2025. Suaranya tenang tetapi tegas, memberi pesan bahwa proses yang mereka jalani bukan sekadar administrasi, melainkan perjalanan pembentukan karakter sebagai pemimpin.
Ia mengingatkan kembali panjangnya proses yang telah dilalui: mulai dari unggahan persyaratan sesuai Permendikdasmen Nomor 7 Tahun 2025, tes substansi online, hingga sampai pada tahapan diklat selama sepuluh hari. “Setiap tahap bukan untuk menyaring siapa yang terbaik, tetapi siapa yang paling siap menjadi pemimpin pembelajaran,” ujarnya.
Sesekali, para peserta tampak mengangguk. Beberapa mencatat, seakan tak ingin kehilangan satu pun pesan. Dari raut wajah mereka, tersirat harapan: memimpin sekolah yang lebih maju, lebih adaptif, dan lebih manusiawi.
Dalam sambutannya, Jumadilriansyah menyampaikan tiga pesan yang menjadi ruh pelatihan ini. Pertama, jadikan pelatihan sebagai ruang belajar yang mendalam—bukan sekadar mengejar kelulusan, tetapi menggali inspirasi dan memahami persoalan nyata di sekolah. Kedua, bangun jejaring dan kolaborasi.
“Di ruang ini, Bapak/Ibu bertemu sesama calon pemimpin. Jalin relasi, berbagi ide, karena kemajuan pendidikan tidak lahir dari satu orang saja,” katanya. Ketiga, fokus pada visi besar: peningkatan Indeks Pembangunan Manusia dan pemenuhan standar mutu pendidikan nasional.
Deretan narasumber dengan latar keahlian berbeda sengaja dihadirkan untuk memperkaya wawasan peserta. Mereka datang dari berbagai lembaga seperti BPMP Banten, BGTK Kaltim, KSPSTK Kaltara, hingga KGTK Kaltara—memberikan materi mulai dari manajerial, supervisi akademik, kewirausahaan, sampai penguatan karakter kepemimpinan.
Sebanyak 27 guru terpilih mengikuti pelatihan ini. Selama sepuluh hari mereka akan berada dalam ruang yang sama, berdiskusi, berlatih, dan mungkin menemukan jati diri baru sebagai pemimpin. Tidak sedikit yang datang dengan membawa rasa gugup, tetapi kegugupan itu perlahan menyatu dengan optimisme.
Di luar ruang pelatihan, harapan pemerintah daerah menyertai langkah mereka. Bahwa ketika pelatihan ini berakhir, mereka pulang ke sekolah masing-masing tidak hanya dengan selembar sertifikat, melainkan dengan keberanian mengambil keputusan, kemampuan membaca perubahan, serta tekad untuk membawa sekolah dan peserta didik menuju masa depan yang lebih baik.
Pada akhirnya, pelatihan ini bukan hanya tentang menyiapkan kepala sekolah baru. Ia adalah tentang membentuk pemimpin yang menginspirasi—yang hadir bukan sekadar memimpin, tetapi menggerakkan. (rko)


